Dia Libur Aku Lembur,
Aku Libur Dia Lembur
Aku jatuh cinta pada
pandangan pertama dengan pria itu. Hhhhmmmm….senyumnya manis sekali, sangat
melekat di ingatanku. Hanya sekali aku memandanganya, namun berhari-hari
terbayangkan senyum itu. Yugi...Yugi Alfaro, hem…tentu saja aku tau nama pria
itu bukan karena hasil perkenalan antara kami berdua, melainkan ia adalah classmate ku, dan aku adalah Ainie.
So…ini sepenggal kisah cinta pertamaku.
Semakin mempesona saja
pria itu bagi ku, tatkala ia memainkan gitarnya di kelas ketika jam istirahat
bersama teman-teman yang lain. Dan tentu saja aku tak ingin ketinggalan momen
yang asyik ini. Aku pun ikut bergabung dan tanpa ada yang tau bahwa aku sangat
terkesima melihatnya….Wow….! cool….! Lagu nya yang selalu ku ingat dan sangat
merdu ketika dia menyanyikannya…gak kalah dengan penyanyi aslinya, Aku Masih Sayang-ST12. Sangat asyik di
dengar oleh telingaku.
Saat itu kami masih
duduk dibangku SMA kelas X, dan aku telah menyukainya. Tiap hari pandanganku
tak lepas darinya. Entah kenapa…..aku pun tidak mengerti. Kelas XI aku dan dia
mengambil jurusan yang berbeda, Aku Mengambil Jurusan IPA sedangkan Yugi IPS. Tentu saja kami berdua
berbeda kelas. Sedih juga, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Hari-hari ku di
sekolah hanya bisa melihatmya dari kejauhan. Pada masa kelas XI ini, kami
lancar berkomunikasi via handphone, rasanya semakin dekat saja perasaan ini.
Tapi ada sesuatu yang aneh dan sangat tidak aku mengerti, aku tak punya
keberania menyapa dia di dunia nyata. Berbicara dengannya pun hampir tak
pernah, kalaupun bertemu dan berpapasan hanya senyum tipis yang terlihat.
Percaya atau tidak, jantungku hamper lepas jika berdekatan dengannya. Keringat
ku tak bisa di control entah apa yang terjadi dengan diriku. Mungkin dia heran,
via telephone aku sangat akrab tapi di dunia nyata kami seperti tidak kenal
satu sama lain. Kerap kali ia ingin mengajak bertemu, entah apa saja alasanku.
Malu nya tak bisa dibayangkan. Aneh…aku sempat menangis meratapi kemalanganku
ini.
Kelas XII aku dan dia
tentu saja tetap berbeda kelas. Pada masa ini, dia telah mengetahui perasaanku.
Hmm..perasaan itu telah aku beritahu padanya lebih dulu. Bagaimana bisa aku
menahannya terlalu lama, bisa meledak nih hati aku. Tapi aku tak memintanya
untuk pacaran denganku, karena aku pun belum diizinkan pacaran oleh kedua orang
tuaku. Jadi yugi dan aku hanya berkomunikasi biasa saja via handphone. Banyak
momen-momen yang terjadi bersamanya pada masa kelas terakhir ini, baik itu
momen manis dan momen galau sekalipun. Aku tak menyangka bisa bertahan menyukai
seorang pria bahkan dari kelas X sampai kelas XII. Aku tak terlalu
memperlihatkan perasaanku ini padanya, karena aku merasa belum mampu
mempertanggungjawabkan perasaanku ini. Hingga yugi dan aku sempat juga berjarak
dan hubungan kami pun kurang baik. Mungkin dia kesal dengan sikap dan
perasaanku yang menurutnya menyebalkan dan sulit diterka. Aku menyukai pria ini
dan bisa dikatakan bahwa aku menyayanginya, tapi aku berpacarana dengan pria
lain. Meski dilarang oleh orang tua tapi aku tetap saja nekad. Mungkin aneh,
aku menyukai pria lain dan pacaran dengan pria yang lain pula. Akhirnya
perasaan aku dan Yugi pun tidak pernah bertemu. Aku tak pernah tau apakah dia
memiliki perasaan yang sama atau tidak pada ku, yang ku tahu dia hanya
mengagumiku.
SMA pun usai, aku
melanjutkan study ku di bumi melayu Pekanbaru. Yugi melanjutkan studynya di
kota metropolitan Medan. Akhirnya aku dan Yugi saling berjauhan. Entah apa yang
mendorong hatinya, dia datang kembali padaku dan menanyakan padaku lagi tentang
perasaan ku. Komunikasi ku dengan Yugi lancer saja via handphone, hingga pada
saat ia bertanya,”masih sayang nggak sama ku?”.
Dug……….! Detak keras jantungku kaget mendengar
pertanyaan Yugi. Aku bingung harus jawab apa, satu sisi aku ingin menjawab, “I
Still Love You, Boy”. Namun di sisi lain, aku masih berpacaran pada saat itu.
Aku tidak mungkin mendua, aku tidak bisa mengatakan sayang kepada orang lain
sementara statusku adalah masih pacar orang lain. No…..sungguh Ainie tidak sekejam
itu.
Dia
menunggu jawabanku. Pada saat itu bulan juli tanggal 16 2009, aku membuat
keputusan yang sudah ku pertimbangkan jauh hari sebelumnya. Aku berencana
menjawabnya pada tanggak 27 juli tepat pada hari ultahnya, tapi aku tak tega
membuatnya menunggu terlalu lama. Akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri
hubungan ku dengan pacarku dan jadian dengan Yugi pada tanggal 17 juli 2009.
Akhirnya
cinta ku dan yugi bertemu juga. Long Distance Relationship (LDR), becanda,
tertawa, serius, salah paham, semua terjadi bertahap dalam hubungan ku dan
Yugi. Empat bulan berjalan, ternyata hubungan pun tak selamanya mulus.
Banyaknya masalah dan hal-hal yang ku hadapi di kampus membuat aku dan Yugi
kerap kali salha paham. Menurut dia aku terlalu banyak aturan dan egois serta
apalah yang ada di fikirannya tentang ku. Ketika dia ada waktu, aku tidak bisa
meluangkan waktu, dan ketika aku ada waktu, dia pun ada kegiatan. Yang terjadi
adalah dia libur aku lembur, aku libur dia lembur. Salah paham dan terus salah
paham. Aku dan yugi sering ribut, lewat sms bahkan facebook. Sungguh tak ada
orang ketiga, aku tidak tau apa penyebabnya aku dan Yugi berpisah. Apakah
mutlak karena kekerasan kepalaku, ataukah karena LDR atau ada penyebab lain.
Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi. Aku yang belum mengenali dia
seutuhnya ataukah aku yang berubah. Aku pasrah….
Hingga akhirnya, dia mengatakan, “ Ainie, aku tak
mampu lagi mencintaimu, maafkan aku, semoga kelak akan ada pria yang memahamimu
lebih baik dari aku, dan berubahlah menjadi lebih baik dengan pria yang
mencintaimu nanti. Selamat tinggal…”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar